Friday, August 5, 2016

Sedih, Terlalu Sedih

Terakhir kali bertemu, sedih minta waktu.

Tapi kini sedih telah kembali.

Sedih sudah lelah merasa sedih,

Maka sedih pun berpura-pura tidak sedih.

Sedih pun tak jadi sedih lagi.

Karena sedih...

Sedih, bukanlah sedih.

Sedih, terlalu sedih.

Thursday, March 17, 2016

Catatan Narapidana

I

II

III

IIII

IIII

Kita terpenjara dalam sel tak bernama.
Menjadi tahanan atas perasaan yang tak terungkapkan.
Yang mendamba bersama di kebebasan.

Berbagi udara tanpa takut pengap.
Bergerak lepas tak peduli sesak.
Merajut mimpi.
Menjalin asa.

Sunday, December 27, 2015

2015: Perspektif Perpisahan

Tulisan kali ini saya dedikasikan untuk waktu,
yang tak pernah berhenti dan tak mau menunggu,
yang mempertemukan dan memisahkan,
yang menyakitkan sekaligus menyembuhkan,
yang terus mengajarkan dan memberi harapan.

Hari ini, tepat satu tahun setelah saya absen menulis untuk blog pribadi ini. Rutinitas lima hari kerja di kantor plus dua hari di akhir pekan yang juga diisi kerja sampingan plus 'nol' hari untuk diri sendiri membuat saya kewalahan mengurusi blog pribadi... Walaupun isinya sekedar curahan hati, tapi rasanya saya terlanjur habis energi di setiap hari sepanjang tahun ini.

Faktanya, kalaupun ada waktu luang, prioritas saya ialah...
Tidur!
Bangun siang (menjelang sore)
Makan.
Makan (satu jam kemudian)
Makan (satu jam kemudian lagi)
Tidur lagi!

Tapi hari ini berbeda. Saya selalu suka momentum tertentu dimana saya bisa meletakkan semacam batu imajiner sebagai sebuah marka. Milestone.
Tanpa perlu alasan khusus, hari ini, di penghujung tahun 2015 saya dapat menengok ke belakang, meninjau hari-hari yang telalu dilalui, dan bersiap untuk hari esok, menerawang jauh ke depan.
Saya pun telah siap meletakkan batu kecil ini.
Kini,
di sini.


Pada dasarnya 2015 ialah segala tentang kehilangan dan perpisahan.

Tapi tak selalu menyakitkan.

.... ah, tapi bisa jadi saya in denial.
 
Siapa pula yang menginginkan kedua hal itu? Mungkin 'kehilangan dan perpisahan' selalu menyakitkan. Hanya saja saya selalu menempatkan perspektif untuk melihat 'kehilangan dan perpisahan' itu sebagai sebuah tahapan yang menyenangkan.

Dan adakah itu menyedihkan? Tidak. Ini semacam mekanisme alami proteksi diri. Karena hanya dengan cara inilah saya bisa selamat hingga tiba di penghujung tahun! Kalau enggak ya malah bisa gila.

Secara faktual, di sepanjang tahun 2015 saya harus berpisah dengan banyak sahabat.
Semacam rasa kehilangan yang disebabkan oleh perpisahan akibat pernikahan, sekolah, dan pindah ke luar kota atau ke luar negeri.

Beruntung karena pada satu periode waktu di tahun ini saya dipertemukan dengan seseorang yang kemudian menjadi sahabat dalam waktu singkat. Rumahnya selemparan kolor doang dari tempat tinggal di Jakarta, jadi bisa numpang makan gratis juga. Namun angan tinggal harapan... beberapa bulan kemudian dia pun menikah, yang ujung-ujungnya diboyong suaminya pindah ke rumah baru... Ya sama aja deh, sendiri lagi.

Di umur segini, seperempat abad, isu pernikahan memang jadi topik terhangat. Yang namanya ditinggal kawin - walaupun bukan ditinggal mantan kawin (yang ini udah kealamin juga sih), tetep aja lumayan... Happy banget iya, tapi in a way sedih juga. Mungkin deskrpisi yang paling mendekati adalah, secara fisik mereka masih ada, tetap ada - bagi saya mereka akan selalu jadi keluarga kedua sampe mati juga - tapi ya rasanya beda aja...

Gak ada lagi keluar malem sampe jam 3 pagi misalnya, atau unplanned random trip ke Batu Karas gitu, mabok-mabok lucu juga udah gak bakal jadi lucu lagi sih kalo sekarang (orang ditungguin anak istri atau suami di rumah)... Ngerti kan?

Bentuk kebahagiaan dalam kebersamaan kami pun mulai berubah. Contohnya kemarin, dorong-dorong baby stroller keliling Grand Indonesia sehabis reunian sama geng sekampus ternyata jadi sesuatu yang diluar dugaan sangatlah menyenangkan. Atau, video call sama "ponakan" - yang waktu masih di perut bahkan ikutan nongrkong jaga booth di Brightspot - ternyata sukses membuat saya banjir air mata akibat terharu.

Mata saya semakin terbuka. Saat kita kehilangan sesuatu yang "kecil", ternyata Yang Kuasa punya rencana untuk memberi sesuatu yang lebih besar.

Saya melepaskan mereka, sahabat-sahabat saya. Sebagai gantinya saya pun menjadi bagian dari keluarga-keluarga baru yang penuh kebahagiaan.

Dan dengan kehilangan dan perpisahan saya berkesempatan untuk menemukan hal-hal baru - yang justru berasal dari dalam diri sendiri: perasaan, pengalaman, cara bersikap dan perspektif kehidupan.

Dan akhirnya kita tiba di penghujung 2015. Menoleh ke belakang...
Seumur hidup, baru tahun ini saya bisa lewatin semua sendiri.
Karena menjadi mandiri, tidak pernah jadi perkara mudah bagi saya.

Dulu, saya selalu bergantung pada sahabat-sahabat saya. Mulai dari tanya pendapat, minta tolong, atau minimal harus ditemenin ke supermarket buat belanja bulanan. Sementara sekarang saya tinggal sendiri, berpikir sendiri, membuat keputusan sendiri dan mengerjakan semua sendiri, setelah mengeliminasi fase galau serta curhat yang gak perlu. Dalam urusan karir pun saya tahu betul apa yang saya mau. Dan untuk menghadiahi diri sendiri karena bisa hidup sendiri, saya pun melakukan solo-trip selama sepekan sebelum bertambah usia.

Menjalani semua sendiri tidak terlalu buruk ternyata.
Dan mencintai diri sendiri juga luar biasa rasanya.

Mungkin memang sudah seharusnya demikian. Tapi boleh kah saya berbangga? Ok, bagian itu saya gak minta pendapat juga sih. Saya bangga bisa menjadi mandiri dan akhirnya gak nyusahin siapa-siapa lagi!

Di tahun 2015 ada juga sih kehilangan yang memang terasa menyakitkan, sedih tak terbantahkan. Seperti ketika nenek saya, Nini, harus dipanggil Yang Kuasa. Sedih memang... awalnya. Namun sekarang saya yakin bahwa ia telah berada di tempat yang jauh lebih baik. Dan untuk itu saya berdoa agar suatu saat kita dapat berkumpul lagi. Sedih pun dapat berganti menjadi sebentuk harapan - yang terasa menentramkan dan mendamaikan.

Pun dalam kurang dari 3 hari saya juga harus bersiap untuk perpisahan lainnya.
Besok, saya akan membereskan tugas dan mulai mengemasi barang-barang di meja kerja.
Meninggalkan majalah yang telah menjadi rumah selama dua tahun beserta editorial team yang menjadi penghuni di dalamnya ternyata bisa menjadi sesuatu yang terasa berat.

Sangat berat.
Siapa sangka hubungan profesional dapat mengikat kami secara emosional?

Sedari awal kita sudah sama-sama tahu, cepat atau lambat kita akan berpisah pada sebuah persimpangan...
Yang entah kapan dan dimana, namun ternyata sekarang dan di sini...

Kita sampai. Selamat!

Terima kasih karena telah memberikan sebuah tepukan di balik pundak.
Itu saja yang saya perlukan untuk membulatkan niat menjadi tekad.
dan tentukan haluan
dan terus berjalan.

Masa depan ialah tujuan: untuk diperjuangkan, bukan dipertanyakan.

Tahu kemana menuju,
melaju saja tak perlu ragu. 

Selamat tahun baru!

*


Lights guide you through the emptiness 

There’s something you could found
In the dark.
The beat that you can feel inside
And it won’t make you sad 
You will know.

Don’t Worry For Being Alone.

Saturday, December 27, 2014

Pengecut

Siapa di antara kita yang lebih pengecut;
Yang takut berjalan untuk memulai...
Atau yang tak mau berhenti dan mengakhiri...

Saturday, September 20, 2014

Menyapa Kembali

Hai.

Hai, akhirnya aku menyapa kembali!
Cukup lama absen menulis di blog pibadi ini sesungguhnya sempat mengusik pikiran, beberapa kali. 

Rasanya seperti berhutang pada diri sendiri.

Dan sekarang di sinilah aku. Di kilometer sekian ruas Tol Cipularang Jakarta-Bandung, entah yang ke berapa pastinya karena terlalu gelap di luar sana... Kembali mengetikkan kata-kata, mencoba menuang rasa melalui alfabeta virtual yang terpapar di layar ponsel.

Terlalu banyak hal yang aku lewati selama beberapa bulan ke belakang.

Mulai dari menahan sakit setengah mati, hingga akhirnya merasa terlahir kembali...

Beberapa orang yang begitu berarti telah pergi. Mungkin tak akan pernah kembali. Hanya Tuhan yang tahu pasti, tapi kali ini aku tak akan menanti lagi. Apa lagi berlari. 

Tidak kah tahunan yang dikorbankan berujung kejenuhan?
Tidak kah berputar haluan tak menjawab pertanyaan?

Mungkin iya, mungkin tidak...

Tapi aku, akhirnya memilih berhenti.

Semuanya karena di titik ini aku merasa cukup. Dan ya, ternyata format paling sederhana dari bersyukur adalah merasa cukup.

Pelajaran yang baru aku temukan adalah tentang lingkaran kebahagiaan... Setelah menyaksikan bagaimana bahagia itu berputar-putar dalam kesederhanaan, seketika aku merasa berkecukupan.

Cukup. Sederhana. Itu saja.

Aku bahagia. Dan aku bisa tersenyum lega.

Saturday, May 17, 2014

Kenapa, Untuk Apa?

Kenapa mengalah pada yang menyerah?
Kenapa mencari yang terus bersembunyi?
Kenapa percaya pada yang berdusta?
Kenapa menanti yang tak kan kembali?
Kenapa berjanji pada yang mengingkari?
Kenapa memperjuangkan yang meninggalkan?
Kenapa memberi hati pada yang membenci?
Kenapa menangisi yang telah pergi?

Kenapa terus berlari dan tak pernah berhenti...

Kenapa,
Untuk apa?

Kenapa terus bertanya kenapa?
Padahal kau sudah tahu.
Padahal kau selalu tahu,

Kenapa?
Tak cukup kata untuk menjawabnya.

Kenapa?
Tak kan pernah ada jawabnya.


Saturday, April 5, 2014

Tentang Kehilangan

Ucapan selamat tinggal di persimpangan...
Lambaian tangan atas akhir kebersamaan.
Kehilangan, menyedihkan.

Melepaskan secuil impian.
Mengikhlaskan sejumput harapan.
Kehilangan, menghancurkan.

Namun, adakah yang lebih buruk dari kehilangan arah?

Ya, kehilangan arah...
Seperti berjalan tanpa tujuan.

Tapi bukankah menentukan tujuan pun sebuah pencarian?

Ah,
Satu lagi tentang kehilangan...

Kehilangan membuka jalan.
Sekalipun tetap penuh rintangan.

Karena kehilangan....

Memberi kekuatan
... untuk kembali menemukan.