Wednesday, January 15, 2014

Norma Norman

Suara panggilan masuk yang entah-dari-siapa hampir sukses membangunkan tubuh Norman dari tempatnya berbaring. Waktu telah menunjukkan pukul 11, saat terik matahari menyusup melalui belahan tirai yang menggelantung pada jendela lantai 30 apartemen the Capital Residence di jantung ibu kota Jakarta.

Sensasi hangat menggelitik sebelah tungkai Norman yang terekspos bebas akibat selimut yang tersingkap. Pria itu terlampau malas bergerak, tidak barang satu senti pun.

Lelah, mungkin karena terlalu lelah. Dan kali ini... Kepada bantal ini, selimut ini, guling ini, kaki, tangan, dan seluruh tubuh, sebaiknya tetap lah berada dalam posisi yang sama. Atau Norman mungkin bisa menjadi marah, entah pada siapa dan karena apa.

Norman secara resmi mendeklarasikan permusuhannya dengan "perubahan" sejak ia terpaksa pulang for good ke Jakarta.

Babak baru sang pria dandy dimulai saat ia membuka mata hari ini. Entah apa namanya -- mungkin hidup baru, atau justu inilah yang disebut mati. Segala mimpinya terhalang tembok benua, jaraknya 7.000 mil lebih dari Jakarta. Cinta, cita, dan harapan Norman telah bersemayan dalam dasar tanah Kota Paris. Kandas.

Tiga bulan lalu, saat sang bunda meminta Norman untuk kembali, ia masih menganggapnya sebagai candaan manja orang tua yang rindu pada si bungsu. Tapi fakta berkata lain -- bahkan sangat serius. Garis takdir lah yang menggusurnya pulang ke Jakarta. Sebagai satu-satunya anak lelaki di keluarga Kartokusumo, Norman mau tak mau harus mengambil alih peran sang ayah yang tubuhnya digerogoti usia hingga koma.

Gambaran sosok dirinya sendiri sebagai seniman kontemporer buyar di benak Norman, berganti rupa dengan stelan jas dan dasi di balik meja, mengurusi berbagai usaha ini-dan-itu.
Warna-warni di imajinasinya telah memudar, berganti dengan hitam-putih angka dan data.
Ya, suka tidak suka. Perubahan telah menuntut terlalu banyak dari dirinya.

Dan hari ini, salah satu "usaha" pertama yang dilakukan Norman adalah menjangkau iphone di sisi kiri tempat tidur. Layar menunjukkan waktu hampir setengah dua siang. Beberapa notifikasi panggilan tak terjawab nampak berderet menghimpit barisan sebuah pesan singkat yang seketika menyita perhatian Norman.

Al: Bangun-bangun! Ntar sore harus jadi ya!

Jemarinya sigap merangkai balasan kilat. Ia tersenyum. Mengetahui ada sesuatu yang tidak berubah, dan tak akan pernah berubah.

Norman: Iyaaaa nyonya besar... 

Ialah hubungannya dengan Alyssa, Arian, dan Tantri. Ia tersenyum tanpa aba-aba, memorinya memanggil-manggil kenangan mereka berempat secara acak, persahabatan yang terjalin apik sejak belasan tahun lalu. Tiba-tiba kepalanya terasa nyeri... Ah, ya... Norman teringat bahwa ia harus mengabari seseorang via Viber.

Hi, just woke up... Jetlag headache kickin' in. Where are you now?
I'm at the office, busy reviewing budget proposal right now. Please take meds or vitamins, asap. I'll text you when I'm done. Ok?

*

Musim terus berganti, menjadi latar belakang di balik setiap pertemuan dan perpisahan. Maka kita pun sadar bahwa tak selamanya yang pergi akan kembali. Pun kita tahu bahwa tak semua luka dapat terobati...

Setiap gemerlap akan berakhir gelap, kita hidup dalam semesta yang tak tetap... Maka yang abadi adalah perubahan itu sendiri, karena perubahan akan terus terjadi. Walau hati, mungkin tak pernah menghendaki.

Namun demikian... Diam-diam, Norman telah lebih dari siap -- ia hanya merasa tak perlu untuk mengakui.
Itu saja. Norma Norman.

No comments:

Post a Comment