Saturday, October 19, 2013

Kepingan Cinta di Jakarta

Jakarta sangat menyesakkan. Terutama bagi Alyssa Prawiredja.

Setiap jengkal dari kota seluas 740 kilometer persegi ini tak menjanjikan apa-apa bagi Al.
Tak memberi harapan, tak menawarkan kemungkinan, dan tak punya cinta untuk dibagi-bagi.

Al patah hati. Jakarta acuh tak acuh, tak menyisakan ruang bagi tipe tubuh Al yang sintal. Statistik tubuhnya memang tergolong diatas rata-rata wanita muda yang "diakui" ibu kota. Berikut adalah rincian, setelah setahun penuh diet ketat dan latihan fisik: Size 2, bukan size 0. Celana 30-31, bukan 27-28. Sepatu 39, bukan 37. Bra, 36C. Well, yang terakhir mungkin bisa jadi "aset besar" bagi wanita lain. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kesepakatan sosial telah menggariskan takdir bagi umat metropolitan bahwa big boobies don't count if you're fat.

Maka Al adalah golongan orang-orang yang merugi, lebih tepatnya... dirugikan.

Atau mungkin Al kurang bersyukur? Sudah pasti orang-orang akan berpikir demikian. Tapi apa iya?

Fakta yang bisa ditangkap mata telanjang, Al terlahir dan tumbuh di kalangan termakmur se-tanah air. Sepanjang 2010, Johan Prawiredja sang papa nangkring di ranking belasan dalam Indonesia's 40 Richest versi Forbes, tahun-tahun berikutnya memang merosot enam-tujuh peringkat, tapi toh tak berimbas langsung pada keseharian Al yang masih bisa makan-minum enak setiap saat.

Al masih bisa hidup bermandi harta di komplek gedongan yang berada di selatan Jakarta, rumahnya bergaya french baroque lengkap dengan kolam renang di halaman belakang. Lantainya tersusun atas bongkah-bongkah besar granit biru tua yang dilapisi hamparan permadani Turki. Sebuah tangga melingkar yang sering terlihat di sinetron stripping menghubungkan lantai satu dan dua, di sisi kirinya menggelayut megah 48-light crystal chandelier dengan rangka baja berlapis emas yang didatangkan langsung dari Roma. Hampir seluruh dinding dilapisi wallpaper motif floral warna pastel dengan aksen kilau keemasan keluaran Graham & Brown. Di garasi yang terpisah dari bangunan utama rumah Prawiredja berjejer minimal empat kendaraan Eropa-Amerika yang di-refresh paling lama tiga tahun sekali. Rolls Royce Phantom papa, Jaguar XJ mama, serta Mercy E-class, BMW 5 series, atau Audi untuk Al dan Erin - putra bungsu keluarga Prawiredja. Mobil Jepang tak laku di rumah ini, kalaupun ada fungsinya hanya untuk kendaraan operasional tukang kebun atau untuk belanja bibi ke pasar menjelang hari raya atau pesta besar.

Satu spot yang paling mencolok di kediaman tersebut adalah ruang makan. Tak ada tamu yang meninggalkan kediaman Prawiredja tanpa membicarakan area tersebut dalam perjalanan pulang mereka. Sebuah meja makan berkaki kayu jati dengan ukiran renaissance berdiri kokoh menyokong hamparan marmer berwarna gading. Di atasnya, selusin lilin putih tertancap dalam empat candelabrum berbahan tembaga berselang-seling dengan buket bunga berpita satin -- kombinasi lili putih kesukaan mama, hydrangea kuning, dan bladderbush alias asclepias physocarpa berwarna hijau muda dengan kelopak menyerupai balon yang diimpor langsung dari Afrika Selatan dan dikirim langsung hingga ke depan pintu rumah setiap dua hari sekali.

Peranti makan terdiri dari garpu, pisau, sendok, sendok sup, dan sendok kecil sterling silver yang ditata sedemikian rupa mengapit seperangkat piring porselen seri Flora Danica -- yang tersohor sebagai mahakarya dari produsen dinnerware termewah di dunia, Royal Copenhagen.

Bukan hanya perihal interior yang bintang lima, in the kitchen of Jakarta's old money family ini bekerja dua orang international chef yang bertanggungjawab untuk menghidangkan makanan terbaik: sekelas hotel dan restoran paripurna - setiap hari. Mulai dari sarapan pagi, makan siang, afternoon tea-time, hingga makan malam. Sebetulnya sih keluarga ini tak perlu sering-sering makan di luar rumah, karena akan percuma... Chef terbaik di Jakarta juga toh levelnya belum tentu setara dengan yang mereka punya di dapur keluarga.

Juru masak yang pertama ialah jebolan Cordon Bleu, sekolah kuliner tertua di dunia yang melestarikan warisan gaya dan cita rasa masakan Aguste Escoffier yang dikenal sebagai father of French Cuisine. Chef satunya lagi lulusan sekolah masak Toscana Saporita di Tuscany, Italia.

Beberapa tahun lalu, ruang makan Purwadiredja menjadi perbincangan terpanas di kalangan jetset ibu kota. Foto-foto dan hasil liputan dari meja makan keluarga kaya raya ini muncul di berbagai majalah, mulai dari high-end magazine seperti Bazaar Living, Elle Decor, Clara, dan Dewi edisi khusus, hingga majalah khusus desain, arsitektur, dan interior - Idea, Living Etc, dan Griya. Bahkan dalam satu edisi rubrik Sosialita Kompas Minggu yang mengangkat profil Liliana Purwadiredja - sang mama yang mengurusi organisasi sosial untuk kanker payudara - disisipkan kolom tersendiri yang untuk membahas the 'it' dining room dengan judul artikel "Meja Makan Keluarga Raja dan Ratu".

Sayangnya, situasi di meja makan itu tak seramai yang dibicarakan orang. Tak ada kehangatan di sana - faktanya, meja makan itu selalu sepi. Hanya Al sendirian yang setia berada di sana pada setiap kesempatan, berharap bahwa keluarga kecilnya akan berkumpul lengkap sambil bersantap bersama.

Setiap hari, selama Al di Jakarta - sejak terakhir kali saat ia masih berusia 15 tahun - harapan sederhana tersebut tak pernah jadi nyata. Kecuali ada acara keluarga atau tamu khusus, itu pun paling sering setahun enam kali. Dalam acara makan malam formal semacam itu haha-hihi pun terasa memuakkan - menjadi basa-basi yang terlampau dipaksakan, Al tak pernah suka.

Maka dalam kesendirian Al,  yang menjadi teman terbaik di meja makan sehari-hari adalah gallet, pancake, ravioli, onion soup, gnocchi, roasted turkey, wagyu grade-9 platinum ribeye steak, cupcakes, pudding, panna cotta, creme brulee, dan segala menu makanan-minuman lain yang dia kehendaki.

Itulah latar belakang dibalik bentuk tubuhnya yang sintal.
Al si gadis berlebih harta yang juga berlebih lemak.
Lebih, lebih, tapi kurang...
Kurang perhatian...

Di level yang lebih kronis, Al merasa tak ada lagi pria Jakarta yang tertarik padanya. Pada umumnya mungkin jejaka-jejaka ibu kota memberlakukan filter visual dalam seleksi awal. Dengan badan sebesar itu memang sangat kecil peluang Al lolos saringan.

"Gara-gara chef impor sialan nih!" Gerutu Al saat ia memutuskan untuk mulai rutin mengonsumsi infused water dan berlatih pilates tiga kali seminggu di satu studio yang berada di Jalan Wolter Monginsidi setahun belakangan ini.

Pada satu titik Al merasa begitu lelah dan jengah.

Dua bulan lalu Al memutuskan untuk terbang ke Australia dan menenangkan diri di Bondi Beach, 7 kilometer ke arah timur dari downtown Kota Sydney. Siluet tubuh jam pasir besar Al tercetak jelas dibalik metallic crochet-knit swimsuit dari rumah mode Missoni, tangan kanannya menenteng Goyard edisi Saint Louis carryall - custom warna plum dengan cetakan inisial ALP untuk Alyssa Prawiredja, di batang hidungnya bertengger butterfly sunglasses Marc Jacobs warna putih. Al berjalan menyusuri bibir pantai, kedua kakinya yang beralaskan calf hair sandals Marni warna kuning menyala basah dijilati ombak. Bosan berjalan tanpa tujuan, Al pun mendamparkan dirinya di atas pasir putih Bondi...

Dari kejauhan sepasang mata biru memperhatikan gerak-geriknya, mengamati sosok wanita berkulit kuning cerah di antara kerumunan kulit putih memerah. Sudah berjam-jam tatapan pria berambut coklat itu tak lepas dari wanita berwajah bundar dengan mulut sedikit terbuka - membulat membentuk huruf o.

Al bengong........ Entah sadar entah tidak, ekspresi bloon tersebut sudah bertahan selama lebih dari empat puluh lima menit.

Akhirnya pria itu mendekat, "Hi, I'm Brad." Ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Tak ada respon.

"Hi..."

"Hah..." Al terkesiap. Di hadapannya muncul pria bule berbadan tegap. Otak Al spontan menaksir usianya, menerka-nerka satu angka di antara akhir 20-an hingga awal 30-an.

Jantungnya berhenti berdetak. Satu... Dua... Tiga... Tiga detik di awang-awang.

"Al, my name is Alyssa..." Gadis ini berhasil menguasai dirinya.

*

Pagi ini Al akan mengurus visa di Kedutaan Besar Australia. Pernikahannya akan dilangsungkan enam bulan lagi. Sebuah pintu gerbang yang akan membebaskan Al dari himpitan Jakarta yang menyiksa batinnya.

Ia akan diboyong ke Sydney oleh seorang eksekutif di bidang industri properti, berusia 29 tahun, bernama Bradley Howard.

Namun ia tahu, ada keping-keping cinta yang akan tertinggal di Jakarta: Arian, Norman, dan Tantri.
Enam bulan akan terasa cepat sekaligus lambat di saat bersamaan. Yang pasti, saat ini Al sudah tak sabar untuk mengumpulkan kepingan cintanya di Jakarta, sore nanti.

Al: Bangun-bangun! Ntar sore harus jadi ya!

Tiga setengah jam kemudian, Pukul 13.35 WIB.

Norman: Iyaaaa nyonya besar... 

No comments:

Post a Comment