Monday, October 14, 2013

Antara Jakarta dan Gotham City

Langit SCBD nampak kelabu - perbaduan cobalt blue dan abu-abu. Aark Collective Tortoise yang melingkar di pegelangan tangan kiri Arian membentuk sudut 45 derajat. Jika bukan karena mendung, tak sewajarnya suasana jantung Kota Jakarta terasa sesendu pagi itu.

Arian melangkahkan kaki memasuki The Energy, bangunan yang setiap pagi mengantarkan memori masa kecil kepadanya, Bob Kane's - Batman. Buku bergambar keluaran DC Comics yang sering dibacanya menjelang tidur. Arian tidak pernah mengira bahwa dirinya akan bekerja di salah satu gedung yang rancangan arsitekturnya menyerupai bentuk pencakar langit di Gotham City.

Hey! Ini bukan Gotham kawan, ini Jakarta yang secara tak sengaja terasa makin mencekam.

"Serupa, dan mungkin memang... Sama," Arian membatin.

Pun dengan profesi yang Arian jalani.

Bukan, bukan... Pria 25 tahun ini jelas bukan Batman. Niatnya sih memang sama-sama membela kebenaran. Tapi nyatanya, profesi Arian mengharuskan dirinya membela yang bayar - yang tentu saja... belum tentu benar.

Sesaat sebelum pintu lift terbuka, ada yang bergetar di saku kanan celana panjang khaki-nya. Dua kali. Notifikasi viber muncul di layar.

Dalam lift yang melesat naik Arian membuka pesan yang masuk.

Al: Gue gak ngantor, mau urus visa. Beres kerja susulin ke Kuningan ya.

Jemarinya lantas mulai mengetik balasan di atas layar sentuh selebar 5 inci.
Ting. Arian sampai di lantai 15, ia pun berjalan keluar menuju kubikel tempatnya bekerja. Kedua matanya tak lepas dari iphone.

Arian: Dimana? Cuma bisa satu-dua jam. Mesti balik kantor lagi setelahhnya. 
Al: Ga masalah. Nanti ada Norman juga. Bluegrass aja ya jam 5-an. Lo kabarin si Tri ya... 
Arian: Ok deh bu bos. Udah balik dia? Kapan? 
Al: Semalem. Anaknya juga paling masih tepar. 
Arian: Eh, ketemu daerah sini aja deh. Males macetnya. 
Al: Ya udah yang paling sibuk atur tempat sama jadwal. Gue nunggu kabar lo aja deh. 
Arian: Jam 5 di Fairground. Jadi gue tinggal nyebrang. Jangan ngaret! Gue sibuk. 
Al: Curang. Ya udah di The Goods Diner aja, see you Mr. Busy. 
Arian: Semoga tembus ye visa-nya. Semangat bener yang mau kawin. 
Al: Ya iya lah...

Arian sampai ke kubus tempatnya bekerja. Ia menggeser posisi papan akrilik transparan dengan cetakan putih bertuliskan Arian Silaban SH, menempatkan ribuan lembar dokumen kasus yang diambil dari dalam laci setinggi pinggang di samping meja. Ia menarik kursi, mengambil posisi duduk, menyalakan komputer, dan siap melebur bersama huruf dan angka yang segera tampil pada monitor.


No comments:

Post a Comment