Tuesday, August 6, 2013

Di Sebuah Hotel Murah

Dalam sebuah hotel murah.
Bantal penuh bercak darah.
Kain sprei berserakan di lantai.
Dan gundukan selimut terbakar di satu ujung kamar.

Kandra terbangun.

Ia membuka mata ketika garis-garis lumen menyapu wajah pucatnya.
Panas mentari merembes lewat celah deretan kayu horizontal blind.
Ia pun mulai memilin-milin rambutnya.
Tak panjang, tak pendek. Sebahu.
Jemari lentiknya mengurai setiap helai yang menggumpal, merekat dengan darah kering.
Menariknya ke ujung hingga lepas...
Sedetik kemudian jempol dan telunjuknya menari-nari, membuat gerakan berputar...
Mencacah, memecah serbuk merah hati,
Kemudian diterbarnya di atas ubin batu kuning kusam.

Kandra kemudian berdiri.

Melepas celana dalam lalu beranjak ke kamar mandi.
Menuju kaca depan wastafel, memperhatikan dua bola mata yang diapit kelopak sipit.
Lama ia berkaca.
Berbicara tanpa kata bersama lawan bicara yang menggema di telinga.
Kandra. Kandra.

...

Air menggenang di bak rendam.
Kandra membenam kedalam.
Kran terputar ke kanan.
Merah.

No comments:

Post a Comment