Sunday, July 14, 2013

Obrolan Jendela

Hari ini biasa saja, tidak ada yang istimewa.
Hingga waktu aku menutup jendela...

.....

Belum sebulan aku kembali ke rumah. Tiga tahun tak pulang mengejar gelar, membuatku menjadi asing di kamar sendiri.

Kamarku ada di lantai tiga, berada di komplek rumah susun yang usianya lebih tua setahun dariku. Jendelanya mengarah pada jalan kecil yang membelah bangunan satu dengan yang lainnya.

Bingkai jendela kamarku terbuat dari kayu berlapis cat putih, mengapit dua daun jendela yang masing-masing terdiri dari tiga panel kaca bening. Di luarnya terdapat sepasang jalusi, dari jauh nampak bergerigi seperti papan penggilas cucian - dari dekat permukaannya penuh rekahan, mungkin akibat terus-menerus terpapar terik matahari yang bergantian dengan dinginnya hujan.

Matahari terbenam, waktuku menutup jendela. Dan itu adalah saat aku melihatmu...
... Di seberang jalan, saat hendak menutup jendela. 
Aku di jendela kamarku.
Kamu di jendela kamarmu.

Aku tersenyum.
Kamu mengangguk.
Sedikit ragu,

Pandangan kita beradu. 
Aku dan kamu terpaku.
Ini aku, itu kamu... Bukan yang dulu.

Ini adalah kali pertama setelah sekian lama.
Kita, bertetangga... 
Hanya terlampau lama tak berjumpa.

Kikuk.

Kemudian tawa pecah tanpa aba-aba.
Kita saling sapa, sekilas bernostalgia.
Larut dalam romansa, tentang cita-cita...
Dan cinta, yang kita sama-sama tak punya.

Akhirnya empat jam habis di sana.
Obrolan dari hati ke hati, dari jendela ke jendela.

Dan di antara dua jendela... Kita kembali percaya, 
Harapan itu masih ada.

"Selamat malam," aku menutup jendela.

"Sampai besok".

1 comment: