Monday, June 3, 2013

Daria, Kisah Layang-layang

Hampir tiga puluh jam Daria menghabiskan waktu di pesawat terbang dalam rute panjang JFK - CGK. Bagi Daria ini adalah perjalanan yang teramat menyiksa. Daria bisa mati dehidrasi di udara. Terlalu banyak cairan tubuh yang dia keluarkan. Tak terhitung berapa kali Daria menyeka pipi yang basah air mata serta mengelap dahi dan tengkuk yang dibanjiri keringat dingin.

Menangis dan meriang. Sedikit aneh memang, tapi nyatanya itulah reaksi yang terjadi akbiat campuran dari rasa bersalah, resah, gelisah, dan amarah yang melebur dan menjalarkan sensasi setruman pada setiap sel tubuhnya...

Pesawat mendarat pada suatu senja di bulan Februari. Untuk pertama kalinya, setelah lebih dari sebelas tahun -- Daria meninggalkan New York untuk kembali ke Jakarta.

Entah apa sebutan yang tepat bagi perjalanan Daria kali ini.

Liburan?
Jalan-jalan?
Haha, seperti kurang kerjaan...
Jadwalnya sebagai editor untuk sebuah perusahaan news publishing di New York jelas teramat padat.


Tapi bahkan demi perjalanan ini, Daria rela dipecat!
Daria tak peduli.

Daria merasa bahwa dirinya memang sudah gila. Itu pula sebabnya ia rela mengorbankan apa pun demi kembali ke tanah kelahirannya.

"Hahaha, untuk apa lagi... Aku cuma mau pulang! Hahaha..."

Daria bersikeras dengan kehendaknya - bahkan hingga bersitegang dengan Chris, kekasihnya.
Daria bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya ke apartemen yang selama ini mereka huni bersama dari hasil patungan berdua.

Mungkin situasi emosionalnya serupa dengan perceraian, meski secara hukum mereka tak pernah menikah...

Saat ini, semua dilakukan Daria hanya demi bisa pulang.

Dan sekarang... Daria sudah pulang...

Eh, tunggu dulu.
Saat mengantri untuk ambil bagasi. Daria baru menyadari sesuatu. 

"Pulang?"

*

Pulang.
Pulang.
Pulang.

Kata 'pulang' seperti diputar berulang-ulang tanpa jeda dalam benak Daria.

Kata 'pulang' terasa kurang tepat. Tepatnya, sama sekali tidak tepat.

Daria mendadak hilang arah. Perjalanan ini seolah kehilangan tujuan.

"Aku harus pulang kemana?"
Kalau mau pulang, 
Seharusnya lima tahun lalu. Saat sang ayah koma sebulan hingga akhirnya meninggal dunia.

Kalau mau pulang, 
Seharusnya tiga tahun lalu. Untuk minta restu pada ibu... Saat Daria memutuskan tinggal seatap dengan Chris.

Kalau mau pulang,
Seharusnya setahun lalu. Waktu ibu membutuhkan donor ginjal namun gagal dan berujung pada ajal.

Kalau mau pulang,
Seharusnya sebulan lalu. Sebelum Darell mengirim pesan perpisahan... yang memutuskan tali keluarga sebagai adik dan kakak.

Terlalu lama, Daria...
Terlambat.

*

Daria berjalan menuju kantor maskapai penerbangan. Ia bermaksud mencari jadwal penerbangan terdekat untuk kembali ke New York.

Daria hanya mau pulang.

"Aku mau pulang...."

.....

Pulang?

Pulang kemana?
Kata 'pulang' telah resmi kehilangan makna.
Dan Daria adalah layang-layang yang terbang tanpa benang.

No comments:

Post a Comment