Saturday, May 18, 2013

Sesuatu Yang Kamu Tahu Itu Tabu

Sesuatu yang kamu tahu itu tabu adalah...

Seks.

Saya berani bertaruh... 'Seks' adalah satu kata pertama yang terlintas kepala sebagian besar penghuni negara ini agar kalimat tersebut menjadi utuh. Pasti inget dong waktu kita masih sekolah dulu suka ada yang nyeletuk gini: ih apaan sih kamu jorok ngomongin yang kayak gitu... 

Dari pernyataan tersebut muncul pertanyaan. 

Dalam kalimat di atas, kata 'gitu' merupakan kata ganti untuk?
a. Seks
b. Seks
c. Seks
d. Semua benar

Okay, gak usah dijawab. Haha...

Sebetulnya saya lebih tertarik untuk mencari jawaban untuk yang satu ini... Dimana sih letak 'jorok'-nya? Siapa pula sang bijak yang pertama kali punya ide untuk mengasosiasikan hubungan seksual dengan hal ihwal yang berkesan tidak baik? 

Di kehidupan sehari-hari, kita akan dengan sangat mudah menemukan orang-orang yang akan pasang mimik muka jijik (bisa juga pura-pura mau muntah sambil bilang 'huwek...' atau 'ewh...') saat dilibatkan dalam pembahasan soal persetubuhan, sekalipun dalam konteks tukar wawasan yang sebenernya sih sama sekali tanpa bad intensions

Entah mengapa... Tapi sebagian besar orang percaya bahwa dengan mengeluarkan reaksi semacam itu mereka akan dianggap 'bersih' atau 'suci'. Konsep ini dikampanyekan melalui line sebagai berikut dalam dialog sinetron khas 90an: Bajingan! kamu sudah merenggut kesucian putri semata wayangku (hardik seorang bapak berperut agak buncit saat bertemu pacar anaknya) atau... aku sudah tidak suci lagi (dilafalkan secara lirih oleh sang anak sambil menangis di bawah kucuran air dari shower).

Jadi gara-gara yang gituan seks dikorelasikan dengan ke-hina-dina-an?
Harusnya gak gitu sih...

Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk mendukung perilaku seks bebas lho ya... Saya hanya mencoba meredefinisi seks. Mendapatkan makna dari kata 'seks' yang 'bebas' --  seeking to free itself from value judgments. Untuk itu, saya punya hipotesis yang bisa kita uji bersama: baik atau buruknya hubungan seksual akan sangat tergantung pada 5W+1H. Butir-butir inilah yang kemudian menentukan nilai dari suatu hubungan seksual.

Who. Dengan siapa? Suami-istri, masih pacaran, atau temen doang... 
When. Kapan? Yang pasti gak pas lagi banjir atau kebaran kan...
Where. Dimana? Masa iya di lapangan bola... 
What. Apa? Apa landasannya, yakin cinta nih? Apa pengen doang?
Why. Kenapa? Karena ingin memiliki keturunan atau karena butuh rekreasi. 
How. Bagaimana? Bagaimana.... Caranya... Hahaha (ini kan yang suka jadi bahan obrolan "seru")

Sekarang kita analisis. Seks pada dasarnya adalah sesuatu yang bebas nilai, tidak bermuatan apa pun karena memang merupakan kebutuhan mendasar setiap manusia yang dibekali kelamin oleh Tuhan, bahkan hak azasi. Seks = netral. Positif-negatifnya ya berlandaskan poin-poin di atas, dan semuanya saling berkaitan. 

Contoh positif, misalkan dalam rumah tangga:
Dengan suami atau istri, saat bulan madu, di suatu villa, berlandaskan cinta, karena semua sudah terasa tepat... (maaf, soal bagaimana harus disensor biar gak porno).

Contoh negatif yang ekstrem:
Bersama seseorang yang baru ditemui, sekarang, di toilet umum, berlandaskan nafsu, karena mabuk..... (stop! sensor ah!)   

Basically, setiap tindakan ya memiliki konsekuensi masing-masing. Pada akhirnya ya soal tanggung jawab... Terhadap diri sendiri, lingkungan sosial, dan Tuhan. Toh selain dipersenjatai dengan seperangkat alat kelamin, Tuhan juga telah menganugerahkan akal-pikiran serta hati nurani bagi umat manusia agar bisa mengendalikannya. 

Sex is like credit card anyway. Use it wisely. You can have fun with it. But it's also a big responsibility. When it is used improperly, it can lead to crisis -- an unimaginable problem.

Okay, too many analogies. Ciao.

No comments:

Post a Comment