Tuesday, March 26, 2013

Samsara Sara

Tiga jam lalu kau bertemu dengannya di depan kantor saat menunggu taksi.
Namanya Sara.
Kau tak punya nomor teleponnya.
Kau tak tahu dimana rumahnya.
Kau tak tahu kemana tujuannya.
Kau tak tahu apa-apa.

Kecuali taksi yang akhirnya kau tumpangi berdua - bersamanya.

Anehnya,
Menuju hutan.

Dan barusan...
Baru saja. Dia menyampaikan sesuatu yang meruntuhkan semestamu.
Mengobrak-abrik jagad rayamu.

Sara kemudian berjalan menembus semak belukar.
Dengan pakaian berantakan. 
Serta rambut acak-acakan.


Darah mulai merembes dari celah-celah kecil di permukaan kulitnya yang tergores.

Robek di sana-sini.
Tapi tanpa kau tahu...
Jauh dari pedih dan perih.
Bagi Sara... Luka bukan duka, melainkan suka.

Robek di luar-dalam.
Dan tanpa kau tahu...
Sara bahagia untuk setiap merah yang menetes,
Karena dari situ Sara tahu bahwa dirinya hidup.

Sara mungkin sudah mati - sudah pernah mati.
Tapi Sara hidup lagi.

Sara bertekad bulat untuk mengungkap apa yang belum terucap.
Menyampaikan apa yang masih tersimpan.
Melampaui batas waktu yang bisa kau bayangkan.

Sara hanya perlu bicara.
Menyampaikan setiap kata tentang rasa dan asa.
Sesuatu yang dibawa nyawa, melintasi nyata dan maya.
Bersemayam bersama raga, 
Dan merasuk kembali dalam roh yang berganti rupa.

Tetes darah terakhir Sara... Adalah tenggat waktunya.

Dan baru saja.
Tuntas.
Impas.
Lunas.
Sara membayar segalanya.
Hutang generasi-generasi sebelumnya.

Kara, Dara, dan Sara. 
Adalah Samsara.

Seandainya kau mengingatnya.

Tubuh Sara kini bersimbah darah.
Kau hanya bisa melihatnya. Tanpa mampu berbuat apa-apa.

Bukan Sara yang hancur.
Kamu.
Lima menit lalu.

No comments:

Post a Comment