Tuesday, March 5, 2013

Cinta dan Irisan Buah Nanas

Saat mendengar kau jatuh sakit. Aku memang tak berniat menjengukmu. Tapi tenang saja... Aku tetap punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar ya...
Sekarang aku sedang menelepon jasa kurir -- untuk menyampaikan hantaran untukmu. 
Memang biasa saja, tak berkesan istimewa.
Tapi pesan di dalamnya, ku harap kau bisa pahami.

*

Ding dong.

Bel rumahmu berbunyi, kirimanku sudah datang.

Kamu berbaring saja. Tunggu sebentar.

*

Kiriman itu telah sampai.

Adalah irisan buah yang kini tersaji di atas meja kecil di samping tempat mu berbaring.

Rasaku padamu,
Adalah semangkuk buah nanas.

Kamu mulai memakan potongan demi potongan rasa yang kuberi.

Lidahmu akan merasakan manis,
Bersama masam segaris,
Menjalarkan segar...
Yang berselang kesat sesaat.

Itu lah yang membuatnya unik.
Cintaku... Semangkuk buah nanas.
Kau tak akan mengerti hingga kau lahap semua hingga tandas.

Belum.
Maka habiskanlah.

*

Sudah habis?
Sudah.

Bagaimana rasanya?
Ah, kau belum mengerti.
Kita tunggu hingga kau haus.

*

Benar saja, tak berselang lama kau pun kehausan.
Maka kau minta seseorang untuk membawakan segelas air putih.
Segera.
Kemudian kau coba tawar rasa itu dengan air putih.

Lau apa yang kau rasa?

Pahit. Getir.

Dan itulah akhir cintaku padamu.

Pahit.

*Minumlah segelas air putih setelah kau makan semangkuk buah nanas. Setelah itu kau akan mengerti.

No comments:

Post a Comment