Saturday, January 19, 2013

Tanpa Aba-aba

Dalam beberapa hari Sastra akan berulangtahun. Ke 27.
Bagi Sastra, kini momen pertambahan usia tidak lagi menjadi sesuatu yang istimewa.
Tidak lagi - sejak Rana menghilang. Tanpa jejak, tanpa ada kabar yang terdengar.

Sastra masih terus bertanya. Berkutat pada satu hal sama.
Kenapa?

Dulu padahal ia sendiri yang meyakini bahwa tidak semua pertanyaan akan menemukan jawaban.
Tapi kini justru jiwanya terus berkelana dalam tanda tanya.

Satu malam Sastra memutuskan untuk keluar rumah. Memacu mobilnya di atas jalan tol dengan kecepatan 120 kilometer per jam. Menempuh perjalanan satu setengah jam. Menuju kota seberang.

Udara dingin menembus kulit putihnya, menusuk tulang.

Sastra berhenti di sebuah rumah, dengan garasi terbuka berhiaskan lampu-lampu kecil. Sinarnya yang berkelap-kelip menerangi deretan kursi, meja-meja tua, gelas-gelas bir, dan dekorasi seadanya yang entah mengapa terlihat nyaman di mata. Di sana lah terdapat keriaan kecil. Musik 80'an dari pengeras suara bersahutan dengan tawa orang-orang yang berkerumun di dalamnya.

"Hai Om..." Ujar Sastra pada sang pemilik bar seketika masuk ke sana.

"Ya? Mau minum apa?" Timpal John, sang pemilik tanpa benar-benar peduli akan siapa lawan bicaranya.

"Om, ini Sastra..."

"Hah? Siapa?" John segera mengamati wajah sosok di hadapannya lekat-lekat, "Wah! Kemana aja kamu! Pangling om sama kamu. Sombong bener baru ke sini lagi... Waduh-waduh.. Duduklah sana! Om aja pindah deh nemenin..." Buru-buru John mengangkat gelas bir-nya dari meja kasir, menuju satu meja dengan empat kursi di pojok ruangan.

*

Sastra dan John akhirnya duduk berhadapan-hadapan... Minuman pesanan Sastra di bar milik ayah Rana ini selalu sama. Es teh manis. Menurut Sastra es teh manis di bar ini adalah yang terenak di dunia. Dan Sastra selalu pesan agak disajikan pakai gelas bir dengan sablon bintang, pengunjung lain mungkin tak akan tahu kalau yang Sastra pesan adalah teh manis.

"Haha, masih tetep minumnya es teh manis dari jaman SMP. Tetep gak mau ngebir kamu?"

"Gak ah Om. Aku gak suka. Bikin buncit kan! Males ah..."

"Hahaha, ngehina kamu! Ada apa Stra.. Kamu ini kemana saja? Kirain ikut-ikut sama si Rana..."

"Haha, ada aja Om di Jakarta," Astra kemudian tertegun. Air mukanya resah.

John menangkap sesuatu yang tak beres, "Kenapa kamu?"

"Rana memang kemana Om?" Astra akhirnya mengajukan pertanyaan besarnya.

"Lho, kok kamu nanya Om? Kamu harusnya lebih tahu dari Om."

"Kenapa?"

"Ini gimana sih... Ada yang gak beres ya?" John curiga

"Justru itu Om, makanya saya ke sini. Saya kehilangan Rana."

"Rana kan di New York. Kok bisa kamu gak tahu?"

"...."

"Bukannya seminggu sebelum berangkat dia ngelamar kamu?"

"............."

Sastra tidak bicara apa-apa. Air matanya mengalir tanpa aba-aba.

No comments:

Post a Comment