Wednesday, January 2, 2013

Resolusi: Resureksi

Ada satu rutinitas di penghujung tahun yang sengaja gue ciptakan bersama seorang sahabat terdekat, Ardwina. Sudah cukup lama, lupa kapan awalnya... mungkin sejak awal SMA. Yang pasti, setiap mendekati  31 Desember kami akan menyepakati jadwal pertemuan untuk secangkir kopi atau teh dan mengambil lokasi yang cukup sepi.

Harus sepi, karena kami butuh konsentrasi untuk melakukan suatu misi.

Agar misi berjalan lancar, kami selalu dipersenjatai dengan dua carik HVS putih serta spidol atau ballpoint untuk menulis.

Resolusi -- misi kami membuat resolusi. Sebuah daftar berisi sepuluh mimpi yang ingin kami raih dalam periode setahun mendatang.

Mengulas setumpuk resolusi yang sudah lalu, berikut ini adalah hal-hal pernah tercantum di dalamnya: Ardwina ingin bisa masak sendiri, Andika ingin bisa nyetir, Ardwina ingin masuk ITB, Andika ingin kuliah seni atau komunikasi, Ardwina ingin manjangin rambut, Andika ingin rajin olah raga, Ardwina ingin pacaran serius (tahun kapan ya? Colek Abraham), Andika ingin punya pacar (!!!), Ardwina pengen solo traveling, Andika pengen liburan rame-rame, Ardwina ingin lulus, Andika pun ingin lulus, Ardwina ingin kerja atau sekolah S2, Andika ingin buka usaha sendiri.... 

Ardwina ingin begini... Andika ingin begitu... Ingin ini, ingin itu... Banyak sekali.

Mungkin cheesy sih buat sebagian orang. Kayak, 'apaan sih basi gitu bikin resolusi-resolusian! Lame abis'. Tapi buat gue pribadi, dan mungkin buat Wina, resolusi yang kami tuliskan selalu menjadi the milestones, monumen-monumen untuk setiap momen berharga.

Seberapa jauh kita mampu melangkah ke tempat yang kita tuju,
seberapa berusaha kita untuk sesuatu yang kita mau, dan...
seberapa bersusah payah kita untuk mimpi yang kita buat sendiri.

Mimpi yang kita buat sen-di-ri.

Mimpi tuh kita buat sendiri lagi.... Dan kami menuliskan sepuluh mimpi kami setiap tahun. Dari sepuluh setidaknya tujuh sampai delapan mimpi kami menjadi ada - nyata. Sisanya? Ada yang tertunda satu-dua tahun... Tapi dalam penantian itu Tuhan beri kami lebih, Tuhan memberi sesuatu yang bahkan tidak kami minta. Melebihi batas mimpi yang kami miliki.

Untuk itu semua -- yang diminta dan tidak diminta... Kami amat sangat bersyukur.

*

Akhir Desember di 2011 lalu, gue dan Wina hanya sempat bicara empat mata, soal apa-apa yang ingin kami raih sepanjang 2012. Sayangnya, tidak kami tulis. Sedikit menyesal, tapi tak apa lah... Hingga akhirnya 2012  pun tuntas sudah.

Dan... Celaka ketika ternyata... Gue gak bisa ketemu Wina.
Yang satu di sini, yang satu di sana. Udah bukan beda kota lagi, sekarang kami beda negara.

Sempat sih gue ngerasa sedih... 'Yah, gak bisa deh tahun ini...'

Tapi sekejap, gue tersadar. Gue sama Wina masih berkutat dengan pe-er dari resolusi tahun lalu.
Sesuatu yang telah kami persiapkan, pelajari dengan tekun, dan terus-menerus kami kerjakan.
Sesuatu yang berada di nomor urut satu dalam daftar keinginan kami.

Nomor satu.

Dalam janji tak tertulis.
Yang tidak diikrarkan, tapi lugas-tegas dirasakan.
Resolusi yang bukan lagi di atas kertas,
Tapi di hati dan benak kami.

Dan gue, dan Wina... Sama-sama sedang berlari. Mengejar mimpi.
Mengejar mimpi yang kami buat sendiri.

Gue tersadar...
Setiap baris harap yang kami tulis, adalah ayat-ayat yang memandu kami.
Setiap bait janji yang kami buat, senantiasa menyulut semangat kami,

Ada orang-orang yang berkeringat, berteriak, bercucur air mata, bercecer darah...
Dan itulah jerih payah yang mereka butuh untuk berlabuh...
Bukan lagi sekedar tubuh yang punya nama...
Melainkan erevolusi sempurna menjadi manusia,
Manusia-manusia paripurna.


Mungkin kami,
Kita...
Siapa mau?


Karena resolusi adalah resureksi mimpi.

No comments:

Post a Comment