Sunday, January 13, 2013

Rana: Jakarta - New York

Jo memastikan kedua tali sepatunya telah tersimpul rapi. Sepasang Heritage Classic 6-inch Timberland boot berwarna brown-burnished. Ia menyambar setumpuk majalah lalu memasukan semuanya ke dalam Zatchel navy sambil meninggalkan kamar tidurnya -- menuruni tangga, menuju pantry. Ia membuka lemari es, mengambil sebotol Countre Dairy banana milk ukuran 500 ml. Matanya masih mencari-cari. "Nah, ini dia satu lagi", tangan kanannya meraih ziploc bertuliskan spidol 'PBC'. Setangkup roti berisi PBC: peanut butter and chocolate yang dibuat semalam untuk sarapan di kantor. Jo akan menghangatkannya dengan microwave sebelum melahap hingga tandas.

"Okay, all packed up," Jo mengancingkan mantel dan menyilangkan syal rajutan dilehernya. Kemudian membuka pintu flat-nya dan mulai menembus suhu nol derajat New York City di bulan Januari.

Sambil menahan dingin yang mencubit-cubit, jemarinya yang cekatan mengetik cepat di atas tuts BlackBerry, "Aku berangkat sekarang... Kamu tidur gih, hampir tengah malam kan?"

Ceklis. D.

Jo selalu jalan kaki dari Lexington Avenue menuju tempat kerjanya. Ia perlu melampaui tiga blok menuju sisi timur Central Park untuk sampai ke The 5th Avenue.

Ceklis. R.

Cahaya is writing message.

Lima detik kemudian LED berkedip-kedip merah.

"Belum ngantuk nih. Anyway, di sana pasti lagi dingin banget ya?"

"Banget," balas Jo sigap.

"Di sini juga. Dingin..."

"Jakarta dingin? Gak mungkin!"

"Dingin. Gak ada kamu."

"Haha... Gombal. Udah mau setahun juga kan gak ada aku?"

"Resek. Justru karena itu. Kapan pulang sih?"

"Yah gak usah ditanya deh, mending kamu yang ke sini... Aku udah sampai nih. Mau ada meeting sama klien. Cepat tidur."

"Iya, ntar deh kalau udah ngantuk... Aku mau buat teh aja."

"Good night..." tak lupa Jo menyematkan emoticon 'smile'.

"Good morning..." Cahaya lemas, malas, cemas. Campur aduk jadi satu.

*

Jo, membuka pintu studio-nya. Menggantung mantel dan syal-nya, kemudian meletakkan semua barang bawaannya di atas meja.

"Hey, good morning Jo!" Sapa Matt, sang rekan kerja dengan lemas. Di wajahnya yang berkulit putih tampak jelas dua kantung hitam menggelayut di bawah matanya yang berwarna hazel.

"Hey, morning! Man, look at those shopping bags under your eyes... Hahah"

"Bummer. I just finished the video campaign for Prabal Gurung. Still drowsy from lack of sleep," Matt mengacak-acak rambutnya sendiri, tampilannya benar-benar kacau, "So how's the preparation for your presentation today?"

"Don't worry, I'll nail it." ujar Jo sambil menekan tombol 'on' pada mesin proyektor.

*


Jam 9 pagi di New York City, jam 10 malam di Jakarta.


Dari lantai 52 apartemen yang dihuni Cahaya, Jakarta seolah ditaburi glitter.
Tapi tak sedikitpun Cahaya merasakan terangnya, apalagi tentram.
Hatinya justru terasa temaram.
Kelam ditelan malam.

Dan kali ini lebih pilu karena rindu.
Terpaut jarak beribu mil selama lebih dari tiga ratus lima puluh hari.
Rentang ruang-waktu ini lama-lama terasa seperti jurang.

Cahaya bagai mulai sekarat,
Satu-satunya obat,
dan satu-satunya penyelamat... Adalah Johan Ranaputra.

Seorang pria yang pada pertemuan pertama dikenalnya sebagai Rana.
Dan kini telah berganti nama, Jo.

No comments:

Post a Comment