Monday, January 7, 2013

Kosmologi Hati

Masih tentang Sastra, Astra, dan Rana.

*

Kenapa segala sesuatu harus berakhir?
Bahkan termasuk ihwal yang tak berawal...
Tepatnya, Sastra lupa, kapan hal itu bermula. 

Kenapa harus berakhir?

Kenapa harus ada 'kenapa' padahal tak cukup kata untuk menjawabnya.
Sastra mengenang kata-kata yang dibuatnya sendiri.
Ungkapan yang Sastra sampaikan lewat ayat-ayat yang dihayati Rana.
Masa lampau. Ke zaman saat keduanya bersama.

Sebegitu perih kah Rana meninggalkan luka?
Sepertinya Rana masuk terlalu dalam.
Dan saat Rana pergi meninggalkan...
Ada rongga yang menganga.
Ruang hampa.
Terbuka tapi entah untuk siapa.

Serupa lubang hitam.
Rahasia terbesar yang semesta punya.

Dan Astra sesat di dalamnya.

Lama Astra ada.
Ada Astra dalam Sastra.
Tapi yang ada hanyalah ada.
Ketiadaan Rana justru menjadi semestanya - alam raya milik Sastra.
Dan Sastra, terjebak dalam kosmologi hati yang diciptakannya sendiri.

Ledakan besar. Big bang.
Yang menghancurkan hatinya menjadi serpihan debu kosmik.
Saling bertabrakan. 
Berhamburan.
Lebur.
Hancur.

Butuh milyaran tahun lagi untuk membuatnya kembali pejal.
Kembali berputar pada porosnya.
Dan butuh milyaran tahun tambahan untuk menunggu kehidupan baru di dalamnya.

Sastra kecewa pada realita yang menggariskan ini semua.
Mungkin juga pada Rana.
Yang bersekongkol dengan realita dan mengarang segala cerita.
Sastra terdera, mati rasa yang tak kunjung mereda ini mulai menyiksa.

No comments:

Post a Comment