Friday, January 18, 2013

Kasus

Astra sedang merasa sangat jenuh.
Meja kerjanya penuh tumpukan bahan tulisan yang sedang digarapnya.
Proyek investigasi yang sangat sensitif.
Tentang satu nama besar yang menyangkut bernomor-nomor kasus sekaligus: korupsi, narkotika, prostitusi, pembunuhan... dan masih banyak lagi

Astra tahu bahwa yang dihadapinya adalah mafia penguasa kota.
Sosok bermuka dua. Ternama dan dicintai banyak orang, namun sesungguhnya berbisa dan menjerumuskan. Mematikan dalam satu ucapan: bereskan!

Di tengah-tengah proses liputannya, Astra mulai terjebak dalam lingkaran setan. Tahu terlalu banyak, sementara media tempatnya bekerja tidak mungkin mengangkat berita tersebut. Pimpinan redaksi menahan seluruh tulisannya, "Tidak ada satu pun yang akan saya naikkan."

Tempat kerja ini gila, pikir Astra. Media tanpa idealisme. Media tanpa hati nurani.

Astra mulai jengah pada orang yang itu lagi itu lagi.
Dengan aktivitas gitu lagi gitu lagi.
Yang ngotot sama cara pandangnya dari sudut sempit.
Yang berkutat pada hal sama.
Yang bergerak lambat namun menuntut segala hal lain untuk bisa cepat.

Kadang orang-orang tidak memahami apa yang Astra jalani. Loyalitas sepenuh hati pada khalayak.
Sementara itu orang-orang di kantor ini terlalu banyak komentar tanpa diminta.
Bisanya hanya menuntut tanpa menuntun.

Idealisme digadaikan untuk komersialisme. Karena semua diukur dari materi, bukan dengan hati.

Malam ini Astra kembali mengunggah berita terkait sang mafia kota.

Pimpinan redaksi marah besar. "Apa-apaan ini Astra? Kerja kamu benar-benar percuma! Kamu itu tolol! Keledai bodoh yang tidak bisa diberitahu..."

Astra mantap menimpali "Cabut dulu tuh kacamata kuda. Manusia diberi hati untuk mencari kebenaran sejati. Kepentingan orang-orang di kota ini, lebih penting bagi saya daripada jumlah uang yang masuk ke kantong bapak demi menutupi kasus ini!"

Sang pimpinan redaksi diam.

"Saya dipecat."

"Apa maksud kamu?"

"Saya yang memecat diri saya dari tempat ini. Permisi," Astra pun angkat kaki.

No comments:

Post a Comment