Wednesday, January 9, 2013

Destruksi Hati

Rana adalah orang yang sangat mempercayai penglihatannya. Kehidupan Rana adalah segala tentang visual. Itu pula yang menggiringnya hingga menjadi seorang fotografer. Dan sekarang, nama Rana adalah yang paling sering dibicarakan di industri kreatif as one notable fashion photographer.

*

Saat Rana masih duduk di bangku sekolah menegah, hobinya adalah menggambar... Dengan cat air atau pensil warna. Rana cenderung realis - aliran yang memunculkan subjek sebagaimana apa yang terlihat. Apa adanya. Jujur.

Namun selalu ada rasa tak puas dalam dirinya. Rana masih merasa bahwa apa yang digambarnya masih terasa jauh dari apa dilihatnya dengan mata telanjang.

Hingga Sastra kemudian berucap, "Kenapa tidak menggambar dengan cahaya? Dengan begitu kamu bisa menggambarkan apa yang sebenarnya - sama dengan apa yang kamu lihat..."

"Aku suka orang yang jago memotret..." Sastra menambahkan.

Dan karena satu ungkapan sederhana tersebut, hidup Rana berubah karenanya. Bahkan yang menghidupinya adalah setiap jepretan yang dibuatnya - makan dan minum dari hasil bergelut di balik lensa.

Bisa jadi Rana memang begitu peduli pada setiap kata-kata yang dikeluarkan Sastra. Setiap kalimat yang terucap dari mulut Sastra adalah amanat yang mutlak hukumnya. Wajib dikerjakan dan dosa bila ditinggalkan. Sudah lama Rana meyakini bahwa cinta adalah mengabdi, dan untuk Sastra-lah Rana menghamba.

Rana - adalah segala tentang visual. Segala tentang apa yang terlihat.

Sastra selalu ada. Selalu 'nampak' ada.
Karena itu Rana percaya bahwa Sastra ada.

Dan kebersamaan Rana - Sastra berlangsung sangat lama. Hingga akhirnya sesuatu mengganggu penglihatan Rana: Astra.

Sejak Astra muncul di antara keduanya. Rana mulain mempertanyakan penglihatannya selama ini soal Sastra.
Jangan-jangan selama ini apa yang dilihatnya adalah fana.
Jangan-jangan cinta diantara dirinya dan Sastra tak lebih dari fatamorgana.

Terlalu banyak asumsi, Rana butuh konfirmasi.
Rana tahu resikonya.

Rana pun bertanya pada Sastra.
Dan jawaban yang didapatnya adalah bom atom yang dijatuhkan ke dalam hidupnya.
Membunuh perasannya.
Mendestruksi hatinya menjadi partikel-partikel transparan yang tidak terlihat lagi.

*

Setahun lebih, karya-karya Rana menghilang dari peredaran. Tidak di majalah, tidak di billboard, tidak di internet.
Tunggu dulu... Ke mana Rana?
Bahkan Rana pun kini tak terlihat.

Mungkin Rana hidup.
Mungkin Rana mati.
Tak pasti hidup atau mati...
Yang pasti, seseorang telah dihantui 'arwah' Rana.

Dia, Sastra.

No comments:

Post a Comment