Thursday, January 24, 2013

Catatan 1/2 Wartawan

Dalam beberapa posting ke depan, mungkin bahasan yang akan gue sajikan adalah perihal dunia kewartawanan. (mungkin iya, mungkin tidak, not sure to be honest.)

Empat setengah tahun menempuh pendidikan strata satu di Jurusan Ilmu Jurnalistik, gue rasa ada banyak banget hal menarik yang belum sempat terceritakan. Terlalu banyak.

Mulai dari masa orientasi jurnalistik di semester 3 dan 4 yang penuh peluh dan air mata. Kemudian belajar menulis straight news dan feature news. Meramu artikel opini, mempelajari tajuk rencana, produksi jurnalisme, sampai akhinya merasakan dunia kerja wartawan sungguhan dalam dua periode job training.

Nah kenapa gue gak jadi wartawan?

Belakangan memang banyak orang bertanya, "Dik lo gak mau jadi wartawan aja? Gak mau kerja di media?"
Beberapa bahkan menyayangkan. Katanya percuma gue kuliah: cuma buang waktu, tenaga, dan biaya. 

Kenapa sayang? Gue sih gak sependapat.

Ok, jadi gini... Gue mau kok jadi wartawan. Tapi di media (baca: media massa yang sudah ada di Indonesia) mungkin jawabannya adalah: Tidak.

Bukan karena mental gue cemen, bukan karena gue gak siap ngehadapin tantangan yang ada di lapangan. Kalau pun dalam prosesnya gue mewek-mewek, jungkir balik, jumpalitan... Akhinya juga ada hasilnya kok. Bisa selesai kok pasti.

Di Harian Seputar Indonesia, gue alhamdulillah udah pernah nyicipin gimana rasanya liputan di desk politik, kota, ekonomi, budaya, lifestyle, sampai hukum kriminal yang pressure-nya ampun-ampunan.

Nah, pas di desk hukum kriminal emang paling seru sih. Ya ibarat dokter kalau lagi on-call aja... Mau jam dua pagi kalau ada kasus pembunuhan ya harus liputan. Masuk-keluar kamar mayat, ngecek kondisi jenazah yang kelindes truk (sisa kepala doang), liputan kebakaran, menyaksikan interogasi polisi sama perampok yang mukanya bonyok-bonyok, dan moments-of-suspense lain yang menjadi makanan sehari-hari. Pokoknya tiap ponsel dalam saku bergetar biasanya gue bakal ikut merinding sebentar. Dan kalau ternyata panggilan itu dari redaksi, maka sambil pencet tombol hijau udah pasti gue otomatis nyamber kunci motor. Telepon putus, cabut langsung deh ke TKP. 

TKP dulu gan...

Hehehe, bukan masalah beban kerjanya kok. Sebenernya sih pekerjaanya sangat seru kalau buat gue pribadi. Apalagi di saat turun ke lapangan, gue ketemu rekan-rekan wartawan... Selalu ada rasa "senasib" yang jadi tambahan semangat tersendiri. 

Bukan juga soal deadline yang istilahnya adalah Tuhan bagi wartawan. Deadline ya deadline, hidup juga ada batas akhir-nya: mati. Ya tinggal gimana aja nyiasatin waktu dan workload supaya hasil liputan gak jadi sampah doang. Semua kerjaan juga begitu kan? Soal deadline sih biasa aja...

Jadi kenapa tidak?

Buat gue bekerja itu soal dua hal. Aktualisasi dan apresiasi.
Ada aktualisasi tanpa ada apresiasi, atau pun sebaliknya - sama dengan mati.
Selain itu... Yang paling bikin enggan adalah kepentingan politik dan ekonomi segelintir golongan yang mengendalikan media-media di Indonesia.
Gue gak akan ngomong lebih jauh. 
Silakan tengok saja sendiri. Coba pindahin saluran TV lo ke kanal merah atau kanal biru... Belum media cetaknya.

Nangkep maksud gue kan?

Tekanan terbesar bagi para wartawan di negara ini, justru datang dari tempat mereka bekerja.
Dan di sisi lain, situasi ini lah yang menjadikan gue semakin salut pada teman-teman seperjuangan yang tetap memilih jalan untuk menjadi wartawan. Dengan catatan, yang tetap menjaga idealisme-nya. Gue angkat topi! Salut.

Hormat saya pada kalian yang setia menjalankan misi layaknya para nabi: pembawa pesan.
Wartawan adalah profesi suci - selama hati nurani terjaga pada setiap kata, baik dalam lisan maupun tulisan.

Lagi-lagi ini soal pilihan. Kita mungkin beda jalan. 
Tapi (semoga) tetap satu tujuan.

Dan percayalah, apa yang kita dapat adalah sama.
Tidak ada sedikitpun yang sia-sia.
Karena jurnalisme adalah api semangat.
Jurnalisme adalah jiwa yang menghidupi raga.

Setidaknya bagi kita, 53 manusia yang ditempa bersama-sama.
Serta ratusan nama yang saya kenal dari kampus tempat saya belajar.

*

Ada satu petikan debat analogi yang sangat membekas buat gue:

"Kami adalah bibit tanaman... Perlu disiram, diberi pupuk, serta dirawat agar tumbuh dan berkembang..."

"Oh ya? Kata siapa?! Kalian adalah baja. Perlu dibakar! Dipanaskan! Ditempa! Lalu diasah menjadi pedang!!!"

Kemudian hening.........................

(Tulisan ini saya dedisikan untuk 53 orang dari Angkatan 2007 Jurusan Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi - Universitas Padjadjaran.)


No comments:

Post a Comment