Saturday, January 5, 2013

Bukan Matematika

Kali ini gue akan bercerita. Cerita alakadarnya, karena sudah habis tenaga.
Satu minggu ke belakang gue mengalami susah tidur setiap malam - ada sesuatu yang gue tunggu-tunggu...
Dan hari ini, akhirnya... Akhirnya datang juga.

Gue selalu percaya bahwa setiap akhir akan mendatangkan sebuah awal yang baru. Dan setelah ini... Gue harus bersiap untuk awal dari tantangan baru. Siap gak siap, harus siap.

*

Hari ini, resmi - empat bulan sudah gue mendedikasikan seluruh hidup untuk mengerjakan proyek ini. Proyek yang berawal dari kepingan cita-cita kecil yang gue bangun hingga menjadi mimpi yang luar biasa besar. Selama empat bulan ini gue mendapatkan dukungan dari orang-orang yang selalu percaya bahwa gue bisa. Kadang gue berpikir bahwa sebetulnya mungkin gue gak bisa. Tapi rasa dukungan mereka lah yang menjadi energi bagi gue sehingga gue pun akhirnya benar-benar bisa. 

Gue percaya, karena mereka percaya gue bisa.

I have an unimaginable amount of respect for ayah and ibu. Orang tua yang membebaskan tanpa melepaskan. Yang selalu memberi cukup. Tidak lebih, tidak kurang. Dan tanpa perlu diminta. Ayah dan ibu adalah satu entitas kesempurnaan.

Semua ini juga gak mungkin terjadi tanpa dukungan Hanif, sahabat gue yang telah mempercayakan pada gue untuk membangun ini bersama. Kemudian Fiman, yang setiap hari mati-matian mengurusi produksi bareng-bareng. Dan bersama Fiman juga gue sadar bahwa industri ini benar-benar gila. Dan kita sepakat bahwa there's nothing as glossy as it looks. Panas-panasan, nembus hujan, empat-lima lokasi satu hari, revisi, revisi lagi, revisi lagi, revisi terus, dan semua kompleksitas yang mungkin gak terbayangkan oleh siapa yang sekedar jadi penonton - jadi komentator.

Secara khusus, hari ini gue berterima kasih pada Fiman. Atas empat bulan perjuangan yang gak mungkin bisa gue bayar dengan angka berapa pun juga. Ucapan terima kasih pun gak akan pernah cukup. Tapi gue percaya, Fiman yang selalu punya mimpi, adalah Fiman yang nanti ketika gue temui akan berjalan dengan harga diri, dengan kebanggaan karena mampu berdiri sendiri.

Tak lupa Emeraldi Kumastyo, Jovy Aidil Akbar, Lukman Hakim, Resa Nurpradana, Adhika Aryamurti, Nurfitriyani, Fitri Sungkar, Satria Perdana, Olga Abdella, Agung Nurima, dan Aby Gazzala. Terima kasih untuk hari ini.

Satu berakhir. 
Seribu lagi menanti.
Lebih, lebih dari hitungan yang bisa diselesaikan matematika.

No comments:

Post a Comment