Sunday, January 6, 2013

Anomali Hati

Sastra mengaduk-ngaduk cangkir kopi di hadapannya. Isinya tinggal setengah. Temperaturnya ditengah-tengah. Panas sudah lewat, hangat pun tidak.
Nyaris dingin, mungkin.

Kopi tanpa aroma yang ada di genggaman tangannya adalah analogi yang sama untuk menggambarkan suasana hati Sastra. Mati rasa.

*

Astra menatap Sastra lekat-lekat. Sosok yang sudah 4 tahun belakangan mendampinginya. Setia. Tak banyak bicara. Tak terbaca emosinya. Sastra adalah misteri.

Dan Astra mencintai misteri - sesuatu yang tersembunyi. Sesuatu yang memerlukan pencarian untuk menemukan. Mungkin itu yang menjadikan Astra terobsesi pada jurnalistik. Ia bergelut merangkai kata, sembari mencari fakta - kebenaran, di antara berjuta kemungkinan.

Sastra bagi Astra. Adalah misteri terindah dalam hidupnya. Misteri yang tak habis-habis dia selami.

Seperti kali ini, Sastra hanya diam sambil memasang senyum tipis. Bukan senyum manis, bukan senyum senang, dan bukan senyum malas. Senyum tipis yang perlu penafsiran. Dan memori Astra tengah bekerja - melakukan analisis semiotika, berusaha memecah sejuta makna dibalik satu senyum Sastra.

*

Dua jam dalam diam, Sastra dan Astra akhirnya keluar. Meninggalkan Anomali Coffee di bilangan Senopati, entah mau ke mana.

Alah, ke mana saja lah (Sastra)

Ke mana saja asal bersamamu. (Astra)

*

Lima menit kemudian seorang pria berkemeja marun masuk ke tempat yang sama.

"Nda, sori banget nih gue telat.."

"Santai aja Ran. Eh tadi ada Sastra deh kayaknya. Gue pikir janjian sama lo juga..."

"Sastra?"

"Iya. Masih ya dia sama si Astra itu?"

"Haha.. Mungkin... Gak tau juga..  Tadi mereka berdua?"

"Iya. Berdua..."

"Ya berarti masih lah... Hahaha..." Rana menarik kursi. Duduk. Tertawa. Tanpa ada yang perlu ditertawai.

Tidak. Memang ada satu yang lucu: Sastra dan Astra.
Bukan dirinya.

No comments:

Post a Comment