Tuesday, January 8, 2013

Ambivalensi Hati

Astra kehilangan kemampuannya berkata-kata.

Sudah pukul 10.45 malam. 15 menit menuju deadline. Dan dia belum menyelesaikan satu pun tulisannya.
Ada lima liputan yang dia kerjakan hari ini. Dan sekarang, belum satu pun dimulainya.

Astra sedang bertugas di desk hukum kriminal. Salah satu desk paling sibuk di kota ini. Ia "dipindah-paksa" dari desk politik setelah wartawan yang sebelumnya mengisi posisi tersebut pindah ke kantor berita Inggris, Reuters. Ini hari kedua untuknya.

*

Astra mengawali pagi ini dengan dua persidangan. Untuk kasus korupsi anggota parlemen, dan kasus pemerkosaan terhadap seorang pramuria. Usai sidang, Astra harus buru-buru menuju TKP perampokan bank yang berjarak 19 KM dari pengadilan. Setelah makan siang, Astra harus mendatangi kantor polisi untuk mengetahui perkembangan kasus buronan pembunuh berantai yang belakangan meresahkan warga. Astra menduga itu adalah liputan terakhirnya. "Hari yang melelahkan," pikirnya. Astra pun menggendong ranselnya, bersiap kembali ke kantor redaksi. Pekerjaannya masih jauh dari kata selesai.

Matahari baru tenggelam. Jam bubar kantor biasanya jalanan lebih padat, tapi hari ini berbeda dari biasanya. Jalanan cukup lengang. Astra pun mulai memacu sepeda motornya lebih cepat. Menembus 80 kilometer per jam di jalan dalam kota - harusnya cuma butuh 15-20 menit untuk mencapai kantor.

Tiba-tiba ponsel dalam jinsnya terasa bergetar. Astra menepi. Membuka pesan singkat yang berisi informasi kebakaran di gedung kementrian hukum. Astra memutuskan untuk balik arah. Setiba-nya ia di lokasi, sigap Astra mengeluarkan notebook, pena, dan voice recorder-nya. Mengamati kondisi, mencatat setiap detail, mencari keterangan saksi, melakukan konfirmasi pada pihak berwenang. Hampir jam 10 malam, Astra merasa cukup. Ia harus segera kembali ke kantor. Terlalu banyak berita yang harus dibuatnya.

*

Astra menarik kursi dari meja kerjanya. Meletakan semua peralatan liputannya di samping PC yang baru ia nyalakan. Setelah menyeduh kopi instan, sambil menyeruput ia membuka program Microsoft Word. Saat hendak mengetik kata pertama...

Beep... Beep

Notifikasi email masuk.

Astra membuka folder inbox. Pengirim: Sastra.

Jika Sastra - misteri yang selama ini ia sususri adalah sebuah gang yang gelap, maka pesan yang baru ia terima adalah satu petunjuk ke ujung jalan. Maju. Mundur. Diam. Selesaikan atau biarkan.
Ambivalen.

Dalam 10 detik, Astra kehilangan kemampuannya berkata-kata.

Sudah pukul 10.45 malam. 15 menit menuju deadline.


No comments:

Post a Comment