Wednesday, December 19, 2012

Mantra Tantra

Pemuda berkemeja flannel itu mendadak bersin-bersin sambil menggisik mata. Saluran pernapasannya tergelitik, sementara penglihatannya kabur - terusik partikel transparan yang menghambur ke wajahnya. Mata berdebu.

Klik... Klik.. Klik.. Telunjuknya menekan-nekan satu tombol. Tetap gelap. Baiklah, sesuai dugaan.. Antara saklar yang sudah rusak atau bohlamnya yang putus. Ia merogoh saku jeans, mengeluarkan criket - membuat penerangan seadanya. Matanya sigap menjelajah, kemudian berhenti di satu sudut, di mana terdapat meja bujur sangkar setinggi lutut. Ia menggapai lilin yang ada di atas benda semacam coffee table itu, kemudian menyalakannya. "Ah sekarang lebih baik," ujarnya dalam hati.

Entah apa sebutan yang paling tepat untuk tempat ini. Tantra juga tidak tahu pasti mengapa dirinya berada di sini - di rumah... hmm sepertinya lebih pas disebut ruangan, di ruang sesak yang gelap dan pengap ini. Jarak kepala ke langit-langit hanya sepuluh senti. Sesekali ia perlu merunduk, khawatir terantuk rangka atap yang menjorok lebih rendah.

"Kenapa aku di sini?" Tantra membatin.

*

Sudah tujuh malam Tantra mendapat mimpi serupa. Dan setiap ia membuka mata, jarum jam yang ada di sisi kiri tempat tidurnya selalu mengarah pada angka yang sama. Jam tiga. Tiga, pagi buta.

Dalam mimpi Tantra bertemu dengan seorang gadis. Seseorang yang terasa sangat hangat, akrab, dan dekat. Tantra merasa mengenalnya, meski sama sekali tak tahu namanya, bahkan selain dalam mimpi tak tahu lagi ia pernah bertemu di mana. Ia tak tahu pasti. Tapi hatinya mengatakan bahwa ada ikatan yang menalikan dirinya dengan sang gadis.

Dalam mimpi, sang gadis selalu terlihat sedang menari-nari di taman luas yang seolah tak berbatas. Permukaan tanahnya tertutup rapi oleh permadani yang terbuat dari bermilyar bunga putih. Setiap bunga memiliki satu kelopak dengan penampang sebesar ujung kuku kelingking manusia dewasa. Tekstur serupa kertas tisu, ringkih, berkelir putih bersih. Tumbuh tak berdaun, ditopang batang sehalus rambut.

Udumbara.

Tantra selalu menemukan sang gadis di sana - di padang udumbara. Wajahnya bulat, kulit kuning langsat, dengan rambutnya hitam tergerai sebahu, matanya sipit - mirip dengan bentuk mata kepunyaan Tantra. Setiap kali beradu pandang, maka Tantra akan merasa melayang. Seolah ada energi yang mengangkat tubuhnya dan bergerak mendekati sang gadis. Tantra tak ingin melawan. Ia akan membiarkan dirinya mengambang, mengawang-awang bersama sang gadis. Dan pada setiap akhir romansa setengah magis itu, Tantra mendapat bisikkan: sebuah mantra...

Tak tahu maknanya apa.

*

Siang tadi Tantra tertidur di kelas. Akibat repetisi mimpi aneh itu ia tak pernah puas tidur pulas di waktu malam. Hasilnya, badan menjadi lemas dan belakangan Tantra mulai malas berurusan dengan rutinitas. Tapi ia lebih malas lagi menjelaskan pada orang-orang soal mimpi anehnya. Percuma pikirnya. Maka dari itu ia memaksakan diri pergi ke kampus untuk masuk kelas pukul 12.50, mata kuliah dasar logika. "Makin gak logis... Haha," Tantra mengejek diri sendiri dalam hati.

Pemuda berambut acak-acakan itu permisi ke toilet. Segera ia membasuh wajahnya di wastafel. Kemudian Tantra memandangi bayangan dirinya di cermin. Ia menatap lekat-lekat. Kantung matanya menggelap. Ia menarik napas panjang kemudian menutup mata. Bayangan bunga-bunga dari mimpinya seketika berseliweran dalam pikiran.

Hhhh.... Tantra membuka mata. Dan... Setangkai udumbara kini ada di hadapannya. Jadi nyata, tumbuh di atas cermin.

Tantra memetiknya hati-hati. Bunga ini ternyata lebih kecil dari apa yang ada di mimpinya. Tak lama... Satu, dua, lima.... Udumbara bermunculan di sela-sela keramik yang melapisi lantai. Seperti spora yang menyebar, seolah menunjukkan jalan. Tantra tak mau banyak tanya, segera ia mengejar. Udumbara terus menjalar hingga keluar gedung kuliah, menuju hutan kecil yang ada di belakang komplek kampus.

Maka kedua kaki Tantra pun telah melangkah di taman yang persis sama dengan mimpinya setiap malam. Langkahnya terhenti di hadapan bangunan kayu berukir. Seperti peti. Tapi terlampau besar untuk disebut peti - karena benda ini bisa dimasuki. Maka ia mulai membuka pintu yang ada di sana.

Pemuda berkemeja flannel itu mendadak bersin-bersin sambil menggisik mata. Saluran pernapasannya tergelitik, sementara penglihatannya kabur - terusik partikel transparan yang menghambur ke wajahnya. Mata berdebu.

Klik... Klik.. Klik.. Telunjuknya menekan-nekan satu tombol. Tetap gelap. Baiklah, sesuai dugaan.. Antara saklar yang sudah rusak atau bohlamnya yang putus. Ia merogoh saku jeans, mengeluarkan criket - membuat penerangan seadanya. Matanya sigap menjelajah, kemudian berhenti di satu sudut, di mana terdapat meja bujur sangkar setinggi lutut. Ia menggapai lilin yang ada di atas benda semacam coffee table itu, kemudian menyalakannya. "Ah sekarang lebih baik," ujarnya dalam hati.

Entah apa sebutan yang paling tepat untuk tempat ini. Tantra juga tidak tahu pasti mengapa dirinya berada di sini - di rumah... hmm sepertinya lebih pas disebut ruangan, di ruang sesak yang gelap dan pengap ini. Jarak kepala ke langit-langit hanya sepuluh senti. Sesekali ia perlu merunduk, khawatir terantuk rangka atap yang menjorok lebih rendah.

"Kenapa aku di sini?" Tantra membatin, "Ah sudahlah..."

Ia mulai menelisik setiap sisi ruang tersebut. Ditemukannya sebuah cermin berdiri di pojokan sebelah kiri. Pas setinggi tubuhnya.

Seharusnya cermin itu memantulkan bayangan dirinya... Bayangan tubuh yang utuh.

Namun...

Tak ada Tantra di sana.
Yang ada ialah sang gadis.

Tantra terkesiap, tak siap.
Bulir-bulir keringat dingin mengalir deras. Meninggalkan bekas basah di pakaian yang dikenakannya.

Tantra mendekatkan tangannya ke permukaan kaca. Ujung telunjukkan mencoba meraih bayangan gadis di hadapannya.

Telunjuknya kini mulai bersentuhan... Seketika ada hangat yang menjalar. Reaksi setrum-setrum kecil yang tak dapat digambarkan diksi. Wajahnya kini dirapatkan ke muka cermin. Bibirnya membuka. Tantra membaca mantra. Mantra yang selama ini didengarnya...

Tiada yang pasti kecuali ketidakpastian.
Perubahan adalah ketetapan.
Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. 
Dan masa lalu, dan masa kini, dan masa tak terjamah...
Adalah...........

*

"Woy! Tra.. Tidur sambil berdiri lo, pantesan lama bener gak balik-balik ke kelas!" Firman menepuk bahu Tantra, membangunkannya dari satu batas maya atau nyata yang.....

Yang....

Tidak ada yang tahu, itu apa.

Mantra Tantra tak tuntas terlafalkan.


No comments:

Post a Comment