Sunday, November 25, 2012

Neurosis

Seorang pria merasa tersudut. Bukan karena posisi tempat duduknya yang berada di satu pojok Victoria Cafe. Tapi karena bayangan hitam yang selama ini mengintainya. Tiga bulan sejak peristiwa yang tidak ingin diingatnya, bayangan itu mulai bermunculan. Entah berapa jumlahnya, karena sang bayang-bayang bisa muncul di mana saja. Bergelayut di antara batang pohon Jalan Ciliwung - Kota Bandung, di dalam kelas saat kuliah, di kolong meja kerja yang ada di kantor Cikutra, atau melesat di atas aspal Jalan Cipaganti. Paling mencekam adalah ketika bayangan itu mengikuti mobil yang melesat di jalur Cipularang, merambati pembatas jalan. Kadang menghilang, kemudian muncul kembali tiba-tiba. Hingga Jakarta, sampai di bangunan Plaza Senayan, di eskalator, di dalam lift, di setiap toko yang dimasuki, dan terakhir... Cafe ini.

Satu, dua, tiga, hingga tak terhingga. 
Bayangan itu berkumpul, terasa nyata dan tak nyata di saat bersamaan. 
Menjelma menjadi energi tak terdeskripsi - fluida tak bernama dan tak kasat mata. 

Seketika dingin menjalar, menembus lapisan sol sepatu boots hitam yang membungkus dua kakinya. Semacam listrik mulai menciumi setiap sel badannya, memagut setiap syaraf dalam dirinya. Kesadarannya mulai dipermainkan. Sakit. Sistem dalam tubuhnya mulai diobrak-abrik.

Di hadapan sang pria, hadir seorang wanita. Yang hanya bisa menatap tanpa memahami apa yang terjadi. Lurus pandangannya, dari mata ke mata. Namun sang wanita tak mengerti, karena dalam dua bola mata sang pria, yang ada hanya hampa. Kosong.

Padahal. pria ini minta tolong! Ia memohon tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Seandainya jerit yang terganjal di tenggorokan sang pria dapat diterjemahkan dalam frekuensi pendengaran manusia, niscaya semua orang di Jakarta akan membantunya untuk keluar dari derita yang dirasakannya. Saat itu juga.

Ia minta ampun. Ia minta belas kasih. Ia minta waktu. Ia minta segalanya. 

Hanya satu yang tidak ia minta: situasi ini.

Di dadanya ada ketakutan. Ketakutan. Ketakutan akan ketidakberdayaan. Ketakuan akan kematian yang tak bisa dilawan. 

Ia takut akan ketakutan.

Satu yang pasti. Pria ini segera mati.

Saat nafasnya mulai tercekat, sang pria mengaku kalah, ia menyerah, ia pasrah.

*

Anehnya, ketakutan itu perlahan sirna. Jika dapat divisualisikan, maka momen itu ialah gradasi hitam - putih, transisi gelap - terang yang seiring dengan semua rasa yang mulai jadi ringan. Nyawanya kini mengambang di ambang batas hidup - mati.

Dan ia menemukan keberanian.
Keberanian dalam sebuah penerimaan.

Pria ini lupa,
Bahwa telah tiba saatnya.
Suatu waktu untuk berhenti meminta
... dan mulai menerima.

*

Apa hidup, Apa mati...
Sang pria telah berhenti mencari arti.
Karena hidup atau mati sama-sama harus dijalani
... dengan sepenuh hati.

No comments:

Post a Comment