Sunday, November 11, 2012

Basic Human Needs #3: SEX

Coba cek daftar kebutuhan dasar manusia... Jelas, dua hal mutlak adalah makan dan tidur. Di zaman pra-sejarah, makhluk apa pun bisa bunuh-bunuhan saat rebutan makanan. Begitu pula dengan tidur. Siapa sih yang mau keganggu waktu tidurnya? Yang mulia juga jadi gampang murka kalau kurang tidur, yah minimal moody lah ya.

Nomor satu makan, nomor dua tidur... Nomor tiga?

SEKS.

Ini bukan menurut gue. It's Banksy who said it, “There are four basic human needs; food, sleep, sex and revenge.”

Banksy, who? Well, let me introduce you to a Britain's now-legendary "guerilla" street artist - he has painted the walls, streets, and bridges of towns and cities throughout the world. Si Banksy ini sebetulnya seorang vandalis pseudonymous - hampir gak ada yang tau perihal identitas aslinya. Nama Banksy mulai terdengar sejak karya visualnya mulai muncul di scene underground-nya Bristol. Melalui bahasa seni yang universal - pesan Banksy biasanya bermuatan satir sekaligus menyindir.

Dan kali ini biarkan gue menyindir (atau nyinyir tepatnya) perihal... Balik lagi ke basic human needs: SEKS.

Kenapa sih selalu ada kesan "tabu" untuk membicarakan seks? Dulu waktu kecil, gue sering banget mendengar reaksi semacam "Ih kamu jorok..." atau "Heh jangan ngomongin gituan! Dosa tau..." setiap kali ada yang membahas sesuatu yang berkaitan dengan seks. Hahaha... Buset gak segitunya kali.

Then as the time goes by, pas SMP - SMA pasti dah yang porno-porno dikoleksi. Mulai dari komik, majalah, sampai video. Apalagi sekarang sih udah makin canggih, everything goes digital nowadays. Anak sekolahan udah gak zaman takut kena razia di sekolah gara-gara bawa Golden Boy lah ya. Gue bukan pro sama segala yang porno ya, tapi jelas gak anti sama sekali.

Kemudian makin gede, lanjut pacar-pacaran... Sampai akhirnya gituan...

I know that it might sounds a bit too harsh. Tapi dapet gak sih poin-nya? Bahwa makhluk yang berjenis manusia memang tidak bisa menghindar dari hasrat seks. You just can't help it.
Dan seks ini pada akhirnya cuma soal waktu: ada yang lebih dulu - ada juga yang gak nemu-nemu... Beberapa melakukan di usia yang sangat muda - beberapa saat dewasa - sisanya keburu tua. Hahahaha. Nah menurut gue sebetulnya masalah waktu ini yang perlu diatur. Kalau dalam agama, aturan waktu udah pasti sangat terkait dengan lembaga pernikahan. Tapi kalau bahas waktu biologis? Masalah hormon lah. Belum lagi manusia juga punya nafsu yang tiba-tiba bisa datang memburu. Butuh kontrol? Jelas... Kalau dianggap tabu gimana mau terkendali?

Seks. Dibilang repot ya repot, dibilang gampang ya gampang juga sih emang.

Dan menurut gue perihal "ke-tabu-an" inilah yang menjadikannya begitu rumit - complicated. Betapa setiap remaja harus sembunyi-sembunyi untuk cari tahu - kemudian makin penasaran dan lanjut lebih jauh tanpa kendali. And the parents just clueless about everything until they find their kids pregnant. Gimana coba?

Prinsip tabu-tabu-an tuh menurut gue cuma menyembunyikan fakta-fakta yang seharusnya memang dikemukakan. Seandainya setiap aturan dan larangan hadir dengan penjelasan, sudah pasti semua lebih nyaman.

Akibat dari batasan tabu juga lah, menurut gue konsep pengenalan seks di Indonesia tuh bener-bener learning by doing. Gak ada lah rambu-rambu yang bisa menjabarkan secara logis - kecuali dosa. Kalau masih pada percaya dosa, nah kalau enggak?
Angkatan sekarang tuh emang bener-bener hidup di simpang zaman sih. Di luaran berkesan masih memegang nilai-nilai Timur yang katanya luhur dan "sangat menjaga". Nah diam-diam nih, di dalamnya sih udah amburadul. Istilahnya: taat ibadat tapi tetap maksiat. Lebih bahaya kan? Menipu gitu.

Berapa banyak ya orang tua yang salah duga...? Bangga karena mengira anak-anaknya perawan-perjaka ting-ting, padahal sih teuing*... Hahaha!

(*tidak tahu, bahasa Sunda)

No comments:

Post a Comment