Saturday, August 4, 2012

God, Lennon and Us

Hal yang paling bikin gue anti saat ini adalah kata 'rutin' dan 'monoton'. Untuk itu gue merasa perlu lebih spontan. Apa pun aksinya; yang pasti gak pakai mikir dua kali selama masih bisa tau diri. Jadi ya, “iya-iya aja lah..”

Lewat sepuluh hari di sini, gue bertemu Joris dan Mirre -- keduanya berasal dari Utrecth, Belanda. “Hey, when is your free times? There will be a party tonight, we can chat over cocktails..” Mirre mengajak gue untuk sedikit bersenang-senang malam ini. Tempatnya di Lucky Bar, ada di tepi pantai Barat Gili Air.

Alright, I’ll see you there at 10,” gue mantap bergabung.

Pertimbangan utama ada dua. Pertama, pengalaman baru sama temen baru. Kedua, beberapa hari lagi masuk bulan puasa -- yang artinya ga akan ada party selama 30 hari ke depan.

Kami janjian langsung ketemu di Lucky Bar. Kali itu gue menembus kegelapan – literally, pencahayaan lewat jam 10 malam di pulau ini ternyata minim sekali. Benda-benda yang sifatnya terang benderang letaknya bahkan jutaan mil tersebar di langit -- bintang-bintang. It was something magical to my eyes.

Sampai di tujuan, ternyata gue sampai duluan. Pesen minuman lanjut duduk di meja bar. Sepuluh menit menunggu, akhirnya pasangan ini datang juga dan mereka benar-benar pesan cocktails, haha.. Sesuai penawaran di awal banget nih.

Mirre tiba-tiba nyeletuk, “Hey are you a moslem?

Uh-huh..

Joris dan Mirre kemudian berpandangan, ekspresinya menyiratkan keanehan.

Why? Hmm, this stuff?” Gue menggeser-geser botol bintang di atas meja, memberi isyarat.

Yes! Haha.. I just wondering, aren’t you not allowed to do that, are you?” Giliran Joris yang bertanya.

Hahaha, actually.. Yes this one is forbidden to me. But, well I drink responsibly. I can control myself. Maybe God will understand,” gue berdiplomasi.

Mereka tertawa renyah. Nampak jelas keingintahuan mereka soal Islam semakin bertambah. Sebagai kata pengantar, terlebihdahulu gue mengingatkan bahwa gue mungkin bukan muslim yang baik. Tapi at least gue selalu berusaha untuk berbuat baik – haha, kelewat diplomatis sekaligus narsis.

Penjabaran islam versi pribadi yang gue sampaikan mendorong kami terlibat lebih jauh dalam percakapan soal agama. Hipotesisnya adalah bahwa agama merupakan alat bermuatan politis yang digunakan para penguasa dari masa ke masa -- yang menjadikan berbagai pihak yang berkepentingan bertentangan demi mencapai tujuan masing-masing golongan.

Bergantian Joris, Mirre, dan gue mengutarakan berbagai pandangan soal perselisihan atas “keyakinan”. Tak terbantahkan, sejak era sejarah pertumpahan darah dengan alasan sama telah terjadi -- dan terus bergulir melampaui dua milenium hingga detik ini.

Kompleksitas itulah yang jadi alasan mereka berdua untuk tidak memeluk agama apa pun. "We simply decided to not have it. But we always fine with the others. Just don't mess with us, cause we don't bother the others as well," Joris berkilah.

Mirre menyimpulkan, “No matter what your religion is, what you believe in, have one god, any, or even not at all. The most important thing is.. knowing who we really are. We are human. Respect each other, and everything will be okay.

Well, our topic reminds me a lot to a famous song by Lennon,” gue menimpali..

Yeah, 'Imagine' - John Lennon.

Tanpa komando kami bernyanyi bersama, lalu tertawa hingga lupa bahwa isu barusan sangat sensitif di negeri ini.. Ralat; di seluruh muka bumi.

"Imagine there's no countries.. It isn't hard to do.
Nothing to kill or die for.
And no religion, too.. 
Imagine all the people Living life in peace
 

You, you may say I'm a dreamer 
But I'm not the only one  
I hope someday you will join us 
And the world will be as one

Dini hari menjelang, tapi kedua kaki belum mau diajak pulang. Tak 'kan ada yang mau melewatkan momen ini; ketika Tuhan, John Lennon, dan kami berpesta -- bercengkrama di satu meja yang sama.

No comments:

Post a Comment