Sunday, July 1, 2012

Kapan Lagi?

Sepertinya beberapa jam lalu adalah momen paling emosional yang berhasil menutup pekan ini dengan apik. It was not over dramatic, a little melancholy, but very nostalgic.

Sebuah pertemuan sore ini dengan Ardwina berlangsung seperti biasa, tanpa rencana dan sederhana. Di tengah acara 'janjian' kali ini, gue menyelipkan kesempatan untuk berjumpa dengan beberapa teman SMA: Anya, Emeraldi, dan Aen.

Tidak ada yang jauh berbeda pada pertemuan tadi. Kecuali semua telah resmi jadi sarjana, dengan titel berbeda di belakang setiap nama. Mungkin itu yang menjadikan rasanya lebih istimewa. Gue bersyukur karenanya -- bahwa kami tetap bersama setelah melewati babak hidup yang luar biasa gila bernama kuliah. Kapan lagi kumpul bareng? Sekarang masing-masing siap menjalankan pilihan. Menjelang masa depan dengan secuil harapan: semoga ikatan yang terjalin selalu bertahan.

Amin.

Kembali berdua dengan Ardwina -- waktunya tukar cerita, bercanda, dan tentunya ngunyah nonstop. Haha.. Kapan lagi?

Kapan lagi?

Jadi ngendadak keingetan, dari sekian banyak to-do-list yang harus kita lakuin bareng ada satu yang belum tercapai. Dan kali ini -- lagi-lagi -- si 'kapan lagi?' benar-benar menghantui.

Kapan lagi? Buru-buru kami masuk mobil, bergegas menembus macet Sukajadi di akhir pekan.

"Yah, gak se-resek macet Jakarta sih," kata si anak baru-nya ibu kota.. Haha, rasanya pengen pura-pura batuk sekenceng mungkin.

Maka sepanjang jalan kami cuma cengar-cengir. Sama-sama tahu bahwa besok, besoknya lagi, dan sampai suatu saat nanti.. gak akan ada lagi 'serangan mendadak' ke rumah satu sama lain. Gak akan ada 'penyergapan' di sembarang tempat. Dan gak bakal ada lagi deh yang nyempil terus ngintil kalau dia lagi sama Babam. Heheh..

Dan akhirnya, sampailah di tujuan. Plus puter jalan satu keliling, gara-gara salah berhenti di gerbang yang gelap (takut ada setan). Udah tau lah ya yang takut siapa.. Hahah

Ah SMP 5.. Tempat dimana segalanya dimulai.. Biang kerok semua problematika hidup ini. "Heh, sekolahan.. Semua ini gara-gara elo tauk!". Seketika tawa kami pecah.

Akibatnya sosok Pak Satpam muncul, "Ada apa mas malem-malem?" 
"Eh nggak pak, kita dari depan aja pengen lihat sekolahan.."
"Alumni pak.. Hehe," ok tambahan yang sangat menjelaskan.

Mata kami tak lepas dari bangunan abu yang ada di hadapan. Menghadirkan bayangan Ardwina berambut panjang yang menenteng botol evian sambil menggendong ransel merah dan Andika botak bercelana biru pendek sebatas paha. Ah emang culun sih masa-masa itu. Memori memutar-ulang: dari ruang ekskul Pewarta Lima, berkeliling sekolah sampai lelah, hingga terduduk di teras depan kelas. Sore itu kami tutup dengan kegiatan menatap langit, lama sekali.. Dan itulah satu titik yang mengawali.

Sekarang gue percaya, langit yang sama telah menunjukan dan membawa kami pada hari ini.
Jam ini.
Menit ini.
Detik ini.
Se-per-sekian-detik ini.

Belum selesai.. Begitu pun besok. Setidaknya kita semua masih ada di bawah satu langit kan?

Lewat satu jam, kami berdua bertahan di depan gerbang utama -- terus-terusan ketawa, sesekali mengucek mata. Pak satpam yang nongkrongin di dalam pos sih udah curiga kami gila. Ya udah lah ya..

Kapan lagi?
Ternyata pertanyaan ini sedikit menyesakkan. 

No comments:

Post a Comment